Relaksasi LFR Belum Mendesak

Agen Bola Terpercaya Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai relaksasi aturan mengenai (loan to funding ratio/LFR) belum mendesak dilakukan, karena pertumbuhan kredit perbankan sedang melambat. Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto mengungkapkan, aturan LFR identik dengan pemberian kredit, sedangkan pemberian kredit sedang melambat. “Kredit kan sedang melambat, sehingga sebenarnya tidak ada urgensinya,” kata dia di Jakarta, Selasa (4/10). Lagipula, lanjut Erwin, BI harus menganalisis dampak relaksasi dari aturan tersebut. “Perubahan di PBI (Peraturan BI) itu ada prosedur prosesnya, kami harus melakukan analisis dulu dampaknya,” ungkap dia. Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nelson Tampubolon mengungkapkan, keinginan para bankir agar regulator merelaksasi LFR supaya pinjaman bilateral bisa diakui sebagai dana pihak ketiga (DPK), sehingga bisa mempengaruhi pertumbuhan kredit. “Sebenarnya tidak ada yang berubah, hanya formulanya dilonggarkan,” kata dia. Menurut dia, walaupun tidak ada relaksasi LFR, likuiditas saat ini belum mengindikasikan pengetatan, begitu juga pada akhir tahun. “Karena dana repatriasi harus masuk sebelum Desember, bagi investor yang ingin mendeklarasikan harta dengan denda 2%, penambahan repatriasi ini harusnya bisa membuat likuiditas melonggar,” jelas dia. Meski demikian, Nelson tidak menutup kemungkinan ada pengetatan likuiditas di beberapa segmen bank, seperti di bank pembangunan daerah (BPD). “Biasanya akhir tahun itu belanja pemerintah daerah cukup tinggi. Namun BPD sudah bisa menangani dengan baik, karena mereka sudah pengalaman, siklusnya selalu begitu,” jelas dia. Kepala Divisi Risiko Perekonomian dan Sistem Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Arifieanto mengungkapkan, likuiditas di akhir tahun memang ada kecenderungan untuk meningkat karena bankir mengejar performa satu tahun. “Tetapi saya kira tekanan ini masih manageable mengingat likuiditas bank masih memadai, loan to deposit ratio (LDR) masih di kisaran 90-92%,”ujar dia. Secara industri, likuiditas perbankan tidak menunjukkan pengetatan. Namun, untuk kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) III menunjukkan LDR mencapai 95,8%, padahal industri baru mencapai 90,2%. “Pengetatan likuiditas ini bisa diantisipasi dengan melakukan PUAB (pasar uang antarbank) dengan bank BUKU IV yang LDR-nya baru 87%,” jelas dia. Sementara itu, Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Iman Nugroho Soeko mengungkapkan, relaksasi LFR diperlukan bagi bank yang pertumbuhan kreditnya ekspansif. Hal itu juga diperlukan untuk menghindari penalti apabila LFR melebihi ketentuan. Saat ini, dia menyebutkan, LFR BTN berada di angka 95%, sedangkan batas atas LFR yang ditentukan BI adalah 92%. Sesuai peraturan tersebut, BTN dikenakan penalti dengan menjaga CAR di atas 14%. “Kami menjaga CAR di atas 14%,” jelas dia. Gita Rossiana/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu