Sebut Istri Semanis Gula, Habibie Menangis

Angka Keluar Hk JAKARTA – Mantan Presiden Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie kini punya kesibukan baru. Dia datang dari satu mal ke mal lain di Jakarta untuk mempromosikan buku terbarunya: Habibie dan Ainun. Itu merupakan buku tentang kisah cinta Habibie dan istrinya. Kemarin sore (11/12), Habibie berada di toko buku di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, dia tampak dikerumuni puluhan orang. Mereka membawa buku Habibie dan Ainun dan mengantre untuk meminta tanda tangan Habibie. Presiden ketiga RI itu pun sibuk membubuhkan tanda tangan di setumpuk buku bersampul putih tersebut. Dua jam sudah Habibie duduk sambil membubuhkan tanda tangan. Dengan gayanya yang ramah, dia menyambut satu per satu pria-wanita tua-muda, bahkan anak-anak, yang hendak meminta tanda tangan dan foto bersama. “Semangat beliau hidup lagi jika bertemu banyak orang seperti ini. Saya ikut senang,” ujar promotor gaek Adrie Subono yang mengawal Habibie dalam road show mempromosikan buku itu di mal-mal Jakarta. Habibie memang berbeda dari mantan pejabat tinggi lain yang terkesan jemawa. Karena itu, para pengunjung leluasa berebut bersalaman dan berfoto bersama. Rencana menandatangani buku sempat semrawut karena antusiasme publik sangat tinggi untuk menyapa pria 74 tahun itu. “Saya jadi ingat ibu. Dia selalu ramah sama siapa saja. Anda akan lebih kenal dengan almarhumah setelah baca buku ini,” ujar Habibie kepada seorang pengunjung. Buku setebal 323 halaman itu lebih banyak bercerita tentang almarhumah Hasri Ainun Besari. Habibie menuliskan dengan runtut dan apik awal pertemuan dirinya dengan putri H Mohammad Besari itu ketika tinggal di Bandung. Habibie adalah kakak kelas Ainun di SMA Kristen Jalan Dago. Keduanya saling kenal sejak SMP karena sekolah mereka bertetangga, yakni SMP 2 dan SMP 5 Bandung. Tapi, momen pertemuan yang disebut Habibie “menumbuhkan perasaan cinta” adalah pada Rabu 7 Maret 1962 pukul 10.00. Dia menceritakan, setelah tujuh tahun merantau ke Jerman, pagi 48 tahun silam itu, tanpa sengaja dia bertemu Ainun di rumahnya. Adalah sang adik, yakni Junus Efendy Habibie, yang membawa dirinya mengunjungi rumah Ainun. Habibie kemudian tersenyum sejenak sambil mengulang kalimat yang diucapkan ketika pertama menyapa Ainun. “Saya menyapa dengan spontan. “Ainun, kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!” Dia pun kaget dan menyapa balik,” kenang Habibie. Sejurus kemudian, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, tersebut membuka kacamata dan menyeka air mata yang meleleh pelan. Pria yang setahun lima bulan menjabat presiden RI itu menamakan kisah pertemuannya dengan Ainun sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Betapa tidak, hanya butuh dua bulan bagi Habibie sebelum akhirnya meminang Ainun dan menikahinya pada 12 Mei 1962. Pasangan itu kemudian dikaruniai dua putra, yakni Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Setelah menikah, Habibie memboyong Ainun untuk menemaninya menimba ilmu di Jerman. Ainun pun tinggal bersama Habibie di sebuah apartemen kecil di Aachen. Ketika itu, gaji Habibie hanya EUR 680 (sekitar Rp 8,2 juta kurs sekarang). “Waktu itu, gaji saya sangat pas-pasan dan hanya cukup buat hidup sendiri. Karena itu, ibu saya asuransikan,” ungkapnya. Dia menceritakan, kisah itu merupakan sepenggal di antara kisah lain yang akan ditemukan pembaca dalam bukunya tersebut. Habibie menggoreskan penanya sekitar empat bulan setelah Ainun meninggal. Buku itu rampung ditulis pada awal November 2010 dan diluncurkan pada 30 November 2010. Awalnya, Habibie tergerak menulis untuk menjaga memorinya tentang almarhumah Ainun. Dia khawatir memori tentang sang istri yang menemaninya selama 48 tahun 10 hari itu hilang tergerus usia. Walaupun sudah mengikhlaskan kepergian sang istri, Habibie mengaku belum bisa menyembuhkan luka karena kehilangan. “Saya tidak bisa membohongi diri bahwa masih sakit di hati. Tapi, saya mencoba untuk ikhlas,” ujarnya. Buku kisah cinta Habibie dan Ainun itu memang layak dibaca pasangan suami-istri dan bahkan remaja yang sedang dimabuk asmara. Sebab, di dalamnya diungkapkan berbagai kisah menarik antara Habibie dan Ainun dalam hidup keseharian selama 48 tahun 10 hari kebersamaan hingga maut memisahkan. Dalam sebuah kesempatan, kata Habibie, Ainun menyebut kesetiaan di antara keduanya dalam menjalani kehidupan suami-istri sangat lengkap. Masing-masing, kata Ainun sebagaimana dikutip Habibie, bisa menghayati pikiran dan perasaan tanpa bicara. Bahkan, ungkap Ainun, di antara dirinya dan Habibie terbentuk semacam komunikasi tanpa bicara, semacam telepati. “Saya terharu melihat ia (Habibie, Red) pun banyak membantu tanpa diminta: mencuci piring, mencuci popok bayi yang ada isinya”” kata Habibie mengutip kesan sang istri terhadap dirinya. Satu hal yang dikenang Habibie tentang almarhumah sang istri adalah kebiasaan Ainun yang selalu membantunya mencukur rambut. Setelah meninggalnya sang istri, Habibie sempat gusar dan tak tahu harus mencukur rambut di mana karena peran Ainun tak tergantikan. Rasa kehilangan yang teramat sangat lantas memotivasi Habibie untuk mengabadikan potongan-potongan kisah hidupnya dalam buku itu. Tak sedikit inspirasi dan ingatan detail tentang kisah-kisah lama muncul kembali ketika dirinya berziarah di makam sang istri. Sejak hari pertama penguburan sampai hari ke-40, tiap pagi Habibie tak pernah melewatkan sehari pun untuk tidak berziarah ke makam Ainun di Kalibata. Dia menyesal karena tidak bisa menjaga kesehatan Ainun dengan baik. Apalagi, Ainun meninggal tepat sepuluh hari setelah mereka merayakan ulang tahun perkawinan ke-48. Dalam buku itu juga dikisahkan secara detail saat Habibie mendampingi Ainun mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Ludwig Maximilian University (LMU), Muenchen, Jerman. Habibie berharap kisah cintanya dengan Ainun yang dituangkan dalam buku itu bisa menjadi refleksi dan inspirasi bagi bangsa Indonesia. Terutama bagi yang ingin belajar menjadi suami-istri yang baik serta membangun keluarga ideal dan saling menghormati. Sebelum buku itu terbit, pada 2006, Habibie meluncurkan buku fenomenal berjudul Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi . Buku itu berisi kisah perjalanan politik Habibie. Namun, penjualan buku kedua ini, tampaknya, segera mengungguli buku bertema politik tersebut. Dalam seminggu terakhir, cetakan pertama 25 ribu eksemplar sudah hampir habis terjual. Kini, penerbit kembali mempersiapkan cetakan kedua sebanyak 50 ribu eksemplar. Rencananya, dalam waktu dekat buku itu diterjemahkan dalam edisi bahasa Inggris. Habibie mempersiapkan judul baru dalam edisi bahasa Inggris. Yakni, Habibie and Ainun The Power of Love. Buku itu akan dirilis setelah Habibie menuntaskan rencananya untuk umrah ke Tanah Suci. “Tiket umrah ini untuk dua orang. Tapi, yang berangkat tinggal saya. Saya akan kembali berkomunikasi dengan Ainun dalam doa saya kepada Allah di Tanah Suci,” ungkapnya. (zulham mubarak/c5/kum) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN