Stop Black Campaign, Jangan Coreng Citra Demokrasi Kita!

JAKARTA, RIMANEWS – Kampanye negatif dengan menggunakan segala sumber yang mungkin untuk menjatuhkan lawan dalam rangkaian duel politik Pemilu Presiden 2014 meski sudah dihujat banyak pihak tampaknya tak terhentikan di berbagai media. Di dua media sosial utama Indonesia, Facebook dan Twitter, dua kubu dari dua pasang kandidat pemimpin Indonesia masih saling serang seputar kekurangan, bahkan yang bersifat personal atau fisik, pribadi kandidat presiden dan wakil presiden. Dinilai pengamat, kalau tradisi saling ejek di dunia maya ini tak terkendali saat ini, dipastikan sekali, dua kali, bahkan lima kali Pemilu digelar, demokrasi Indonesia akan terus tercoreng. “Black campaign atau negative campaign jelas cara yang tidak sehat dalam election, pemilihan umum. Pada taraf tertentu bisa dikatakan ini gejala sakit jiwa yang tak tersembuhkan dalam demokrasi yang diterapkan di negara yang masih terjadi black campaign tersebut,” kata Yasin Mohammad, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) kepada RIMA, Senin (2/6), ketika dihubungi di Jakarta. Baca Juga Kampanye hitam, menurut Yasin, bisa jadi malah menguntungkan pihak yang diserang. “Black campaign sering kali malah menguntungkan lawan politik yang ditargetkan untuk diserang dengan black campaign tersebut. Karena cukup direspon dengan bukti-bukti yang menyatakan ketidakbenaran apa yang dituduhkan dalam sebuah black campaign, dengan sendirinya hal itu malah berbalik menguntungkan pihak lawan yang akan terbentuk kesan terzalimi pada dirinya,” terang Yasin. “Seperti pada Pilgub DKI Jakarta 2012 lalu, black campaign sebenarnya sudah pernah menerpa Jokowi. Waktu itu dia kan diragukan agamanya atau agama orangtuanya, atau bentuk black campaign lainnya,” tambah Yasin mencontohkan. Ditanya soal motivasi orang melakukan kampanye hitam, Yasin berpendapat pasangan capres-cawapres mencoba merebut hati para pemilih yang masih bisa terombang-ambing atau swing voters. “Itu digunakan oleh tim kampanye, baik yang official maupun yang sekadar pengikut, atau mungkin memang oleh kandidat sendiri untuk membidik swing voters. Karena apa? Mereka yang sangat mungkin bisa dipengaruhi,” ujarnya. “Apalagi di era jejaring sosial masa kini, sangat bebas, sangat terbuka, dan di dunia yang maya, yang bagaimana pun juga bukan dunia nyata. Sangat sedikit pengguna media sosial melakukan cek kebenaran sebuah pemberitaan,” lanjutnya. Masyarakat sipil diharapkan semakin peka terhadap gejala borok demokrasi di Tanah Air dan meng-counter bentuk kampanye hitam. “Dalam konteks berdemokrasi tentu black campaign mencederai proses demokrasi, dalam hal ini Pemilu. Saling sindir itu wajar tetapi semestinya lebih pada sindir visi misi dan program. Dengan begitu dialog atau debat yang panas itu memberikan pendidikan politik bagi masyarakat, bukan malah menyuguhkan perkelahian politik yang sangat kotor,” pungkas Yasin. (Maghfurrodhi) Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Fokus Isu , Black Campaign , kampanye hitam , negative campaign , Fokus Isu , Black Campaign , kampanye hitam , negative campaign , Fokus Isu , Black Campaign , kampanye hitam , negative campaign

Sumber: RimaNews