Mencegah Laju Regenerasi Teroris!

DALAM waktu relatif singkat, pekan lalu sel-sel jaringan teroris yang menyebar cukup luas di banyak tempat berhasil diungkap dan digulung Densus 88 Antiteror Polri. Logikanya, begitu pesatkah merebak regenerasi teroris sehingga saat ketahuan sudah ada di mana-mana? Dengan demikian, yang harus menjadi langkah prioritas bukan hanya menangkal teroris, melainkan tidak kalah penting bagaimana mencegah laju proses regenerasi teroris. Sekaligus dengan itu dipertanyakan sejauh mana hasil program deradikalisasi yang menjadi andalan mencegah regenerasi teroris. Bahkan, regenerasi itu bukan hanya terjadi pada usia dewasa, di atas 18 tahun, seperti tersangka perakit bom Bekasi yang tertangkap di Ngawi baru berusia 23 tahun. Malah tidak kepalang, sejumlah anak berusia di bawah 18 tahun ditangkap Densus 88 Antiteror Polri selama 2016 karena terpapar kasus terorisme. Mereka adalah ABS (17) yang ikut membuat bom untuk aksi bom Thamrin, Jakarta, 14 Januari. FL (14) berperan menyembunyikan informasi salah satu pelaku bom Thamrin. IAH (17) adalah pelaku bom di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Medan, Sumatera Utara, Agustus lalu. Lalu, GA (16) yang membantu pembelian bahan bom untuk aksi teror di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, dan BP (16) yang membantu pembuatan bom Gereja Oikumene. (Kompas, 24/12/2016) Itu menunjukkan selain program deradikalisasi yang dikelola Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), perlu gerakan masyarakat yang lebih masif sampai ke tingkat RT/RW, seperti yang telah dibentuk Polda Lampung untuk Gerakan Antinarkoba. Dengan gerakan yang berakar hingga masyarakat lapisan terbawah itu, segala gerak-gerik mencurigakan segera terpantau, bisa dihentikan sebelum terlalu jauh. Melihat begitu pesatnya merebak regenerasi teroris, Polda Lampung bisa menambah tugas tim-tim antinarkoba kabupaten/kota sampai desa untuk sekaligus berperan antiterorisme. Itulah kelebihan Lampung, kepolisian daerahnya sudah punya jaringan sistem penangkal terhadap peredaran narkoba, yang jaringan tersebut bisa dimanfaatkan juga untuk kepentingan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) umumnya. Langkah ini diperkirakan akan cukup efektif mencegah laju regenerasi teroris karena gerak jaringan antiterorisnya aktif dalam kehidupan sehari-hari warga sehingga bisa mengidentifikasi dengan mudah orang per orang di sekitarnya. Kalau tampak gelagatnya aneh, bisa cepat diselamatkan sebelum terjerumus masuk jaring teroris. *** Tweet Penulis : H. Bambang Eka Wijaya Editor : Isnovan Djamaludin dibaca : 32000 Kali

Sumber: Lampost.co