Bentuk Timnas, KONI Disarankan Berkomunikasi dengan PSSI

, Jakarta – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sebaiknya berkomunikasi dengan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) terlebih dahulu sebelum menentukan pelatih dan membentuk tim nasional (timnas) untuk menghadapi SEA Games ke-27 di Myanmar, 11-23 Desember 2013, supaya tidak menimbulkan polemik. Demikianlah pernyataan Asisten Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Kementerian Pemuda dan Olahraga, Joko Sulistyono, kepada Tempo melalui wawancara telepon, Ahad, 23 Desember 2012. Dalam Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2010, memang disebutkan bahwa Dewan Pelaksana Program Indonesia Emas (Prima) memiliki kewenangan dalam menyeleksi atlet dan menetapkan pelatih untuk menghadapi SEA Games. Namun, Joko mengatakan, penentuan atlet dan pelatih itu dilakukan oleh tim seleksi yang kemudian memberikan rekomendasi kepada Dewan Pelaksana Prima. Tim seleksi itu, Joko menjelaskan, terdiri dari berbagai unsur, yaitu perguruan tinggi dan pengurus cabang olahraga itu sendiri. Beberapa hari lalu, Ketua Umum KONI, selaku Ketua Dewan Pelaksana Prima, Mayjen (Purn) Tono Suratman, mengatakan akan membentuk timnas U-23 yang dipersiapkan untuk SEA Games 2013 di Myanmar. Ia juga telah menunjuk pelatih untuk menangani tim nasional, yaitu Rahmad Darmawan. Tono mengatakan, tindakan itu diambil karena kekisruhan di persepakbolaan nasional yang tak kunjung usai. Kekisruhan itu terutama melibatkan PSSI dan Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI). Menurut Tono, langkahnya dilindungi aturan yang menyatakan bahwa KONI adalah pengendali Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), yang merupakan pemegang kebijakan untuk semua cabang olahraga yang akan diikutsertakan ke SEA Games. Sedangkan, menurut Joko, justru dengan situasi konflik di dalam tubuh PSSI saat ini akan lebih baik jika langkah-langkah strategis dibicarakan dulu bersama PSSI selaku induk organisasi cabang olahraga sepak bola yang menaungi persepakbolaan Indonesia. “Prima tidak semata-mata memiliki kewenangan untuk menunjuk pelatih langsung,” kata Joko. Menurut dia, Satuan Pelaksana bekerja sama dengan pengurus besar cabang olahraga untuk menjaring atlet-atlet andalan. “Yang berlaku selama ini pengurus cabang olahraga yang mengajukan siapa pemain, pelatih, dan manajer ke Satuan Pelaksana (Satlak) Prima,” kata dia. Berdasarkan pengamatan Tempo , dalam mempersiapkan SEA Games, pengurus-pengurus besar cabang olahraga mengajukan nama-nama atlet, manajer, serta pelatih kepada Satlak Prima. Satlak Prima kemudian menyeleksi atlet-atlet tersebut sesuai dengan kriteria yang mereka tentukan. Para atlet, pelatih, dan manajer yang terpilih kemudian dibuatkan surat keputusan, yang di dalamnya diatur hak-hak dan kewajiban mereka. Dijelaskan lebih lanjut oleh Joko, Satlak Prima bisa saja tidak menyetujui pelatih yang diajukan oleh pengurus cabang olahraga jika pelatih itu tidak sesuai kriteria yang diharapkan. Namun, hal itu akan tetap dikomunikasikan kepada pengurus cabang olahraga yang bersangkutan. ”Kemudian dibahas lagi bersama pengurus cabang olahraga, siapa pelatih yang sesuai,” kata dia. Pengamat sepak bola, Tommy Welly, berpendapat lain. Ia melihat langkah Tono merupakan langkah yang masuk akal, mengingat kegagalan timnas Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) baru-baru ini. Menurut Tommy, saat itu timnas menjadi korban konflik kedua kubu PSSI sehingga tidak maksimal. Menurut Tommy, di tengah situasi yang tidak normal saat ini, wajar jika KONI mengambil langkah untuk “menyelamatkan” timnas. Tommy mengatakan, KONI harus memilih pelatih yang terbaik. Selanjutnya, pelatih itu akan diberi kewenangan teknis seperti memilih pemain. ”Ini langkah logis-strategis,” ujarnya. GADI MAKITAN

Sumber: Tempo.co