BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem Jelang Puncak Musim Hujan

Jakarta – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang masih akan terus terjadi menjelang puncak musim hujan. Cuaca ekstrem ditandai hujan lebat, petir disertai angin kencang. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus S Swarinoto mengatakan, kondisi ini dipicu oleh beragam fenomena, dari daerah pertemuan angin hingga dipicu oleh skala atmosfer skala lokal maupun skala yang lebih luas. “Dalam beberapa hari ke depan suplai uap air sebagai pendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera dan Jawa relatif tinggi,” katanya di Jakarta, Jumat (11/11). Diprakirakan potensi hujan masih terus meningkat dalam seminggu ke depan khususnya di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara. Yunus menambahkan, besarnya pengaruh lokal dan tingginya pemanasan mengakibatkan periode saat ini hingga akhir November nanti memicu peningkatan intensitas Thunderstorm . Kondisi ini memungkinkan terjadi petir dan angin kencang. “Sehingga masyarakat diimbau berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah pada sore hari,” ujarnya. Selain itu, khusus untuk daerah perkotaan dan dataran tinggi agar mengantisipasi hujan lebat dengan durasi singkat yang dapat menyebabkan genangan, bahkan banjir bandang. Selain itu, dalam beberapa pekan ke depan hingga periode awal tahun 2017 sebagian wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim hujan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar waspada dan lebih berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan yakni bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang. Selain itu waspada juga terhadap genangan, pohon tumbang, dan jalan licin. “Pertumbuhan awan-awan thunderstorm skala lokal perlu diwaspadai. Mengingat skilon tropis bisa disertai hujan lebat dan angin kencang, bahkan puting beliung,” ucapnya. Sebelumnya, kondisi dinamika atmosfer yang lembab dan basah dan pemanasan yang tinggi serta kondisi lokal yang kuat, meningkatkan kejadian bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah Indonesia. Kejadian tersebut yakni banjir bandang di Bandung dan Aceh, tanah longsor di Garut, serta angin kencang di Kalimantan Selatan. Ari Supriyanti Rikin/PCN Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu