Dari secarik kertas beralih online trading

pt solid gold berjangka Bursa Efek Indonesia memperingati HUT ke-25, Kamis (13/7). Karangan bunga memenuhi halaman lobi BEI. Ada pemutaran film dokumenter, di antaranya aktivitas perdagangan konvensional pada 1990-an. Ketika itu, aktivitas perdagangan masih menggunakan teknologi sederhana, yakni kertas.

Secara historis, pasar modal Indonesia telah hadir sejak penjajahan Belanda di Batavia dengan nama Vereniging voor Effectenhandel (bursa efek) pada 14 Desember 1912. Ini adalah cabang dari Amsterdamse Effectenbeurs (Bursa Efek Amsterdam).

Kala itu, pemerintah Hindia Belanda mendirikannya untuk memenuhi kepentingan pemerintah kolonial VOC. Tapi perkembangannya tak sesuai harapan. Bursa sempat vakum karena Perang Dunia Pertama pada 1914 hingga 1918.

Baru pada 1925, bursa efek di Jakarta kembali dibuka bersamaan peresmian Bursa Efek di Semarang dan Surabaya. Lantaran isu politik dan meletusnya Perang Dunia II, kantor Semarang dan Surabaya ditutup pada 1939, tak lama kemudian Jakarta ikut menutup pasar modalnya.

Sejak akhir Perang Dunia II dan pergeseran kedaulatan pemerintah dari tangan kolonial, bursa vakum cukup lama. Baru pada 10 Agustus 1977, pemerintah Republik Indonesia menghidupkan kembali pasar modal Indonesia. Saat itu, pasar modal mengalami beberapa perubahan signifikan, seperti penamaan resmi menjadi Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan regulasi pasar modal yang dijalankan di bawah Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam). pt solid gold berjangka

Peresmian dilakukan Presiden Soeharto, juga menandai PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama yang go public di bursa Indonesia. Selama 10 tahun pertama, perdagangan bursa lesu. Di periode ini, hanya 24 emiten tercatat lantaran masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan berinvestasi di pasar modal.

Berbagai upaya dijalankan untuk meningkatkan geliat bursa, antara lain peluncuran Paket Desember 1987 yang memberi kemudahan bagi perusahaan untuk menggelar penawaran umum dan investor asing dapat menanamkan modal di Indonesia.

Pada 13 Juli 1992 Bursa Efek Jakarta mengalami swastanisasi. Tanggal ini selanjutnya diperingati sebagai ulang tahun pasar modal unit Jakarta, yang kini menjadi BEI.

Bursa di Jakarta juga menjadi saksi terorisme pada 14 September 2000. Kala itu, teroris meledakkan bom mobil di ruang bawah tanah BEJ. Di tahun itu pula, bursa mulai menggunakan Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading).Dua tahun berikutnya, BEJ mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh alias remote trading.

Pada 2007, pemerintah menggabungkan BEJ dengan Bursa Efek Surabaya. Sejak saat itu, BEJ berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan kode Jakarta Composite Index (JCI) disematkan sebagai nama global pasar modal ibu kota. Penggabungan ini menjadikan Indonesia hanya memiliki satu pasar modal.

Sepanjang tahun 2016, IHSG tumbuh 15,32%, tertinggi kelima di antara bursa utama dunia, sekaligus menjadi paling tinggi kedua di kawasan Asia Pasifik, setelah Thailand. Prestasi ini adalah bagian dari strategi BEI yang terus mengundang emiten untuk masuk bursa.

Pada peringatan HUT ke-25 BEI kemarin, Direktur Utama Tito Sulistio menyatakan keinginannya menggaet emiten asing di Indonesia, terutama bagi yang memiliki nilai produksi domestik yang besar.

Pejabat dan mantan pejabat BEI pun turut hadir. Mas Achmad Daniri, mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 1999-2002, mensyukuri saat ini kerja bursa sudah lebih efisien, ditopang teknologi digital. Namun jumlah IPO perlu didorong lagi, termasuk memperbanyak “barang dagangan” yang kemudian disebar dan diperluas sehingga menjamin likuiditas pasar.

Terkait volatilitas pasar yang masih fluktuatif, dia menyatakan pentingnya kepemilikan saham yang meluas dan tersebar. Jika semakin banyak tersebut, maka likuiditas pasar akan semakin kuat. “Ini bisa mengurangi volatilitas,” kata Achmad.

Volatilitas itu memang harus ada, sebab mengindikasikan aktivitas jual-beli. Biasanya saham yang diperdagangkan seperti LQ45 relatif likuid dan pembentukan harganya lebih wajar dan fair. “Tetapi kalau volatilitas yang sangat njomplang membuat pasar terkesan spekulatif,” ungkap Achmad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *