Mengenal Palangka Raya, Calon Ibu Kota Baru RI

Solid Gold Raya Kota Palangka Raya menjadi satu dari sekian nama yang diisukan menjadi lokasi calon Ibu Kota baru Indonesia. Nama Palangka Raya bahkan telah sejak lama disebut oleh Presiden pertama RI, Sukarno, akan menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia menggantikan Jakarta.

Kota Palangka Raya bahkan didesain sendiri langsung oleh tangan Sukarno. Konon Sukarno yang seorang insinyur itu memimpikan sebuah Ibu Kota negara yang dirancangnya sendiri. Lantaran Jakarta, sudah memiliki desain sendiri, peninggalan Belanda yang relatif sulit diubahnya.

Kota ini benarbenar dibangun dari nol oleh Sukarno. Pemancangan tiang pertama pembangunan kota dilakukan sendiri olehnya pada 17 Juli 1957. Palangka Raya pun dirancang langsung olehnya mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dan kawasan lainnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun detikFinance, seperti ditulis Selasa (18/7/2017), Palangka Raya dibangun dari hutan belantara yang dibuka melalui Desa Pahandut di tepi Sungai Kahayan. Sebagian wilayahnya saat itu masih berupa hutan, termasuk hutan lindung.
Luas kotanya hampir 4 kali lipat jika dibandingkan dengan Jakarta yang memiliki luas 660 Km2, yakni sekitar 2.400 km2. Hal ini membuat kondisi jalan yang ada di kota ini hampir semuanya lebar, ditambah dengan jumlah penduduk yang hanya sekitar 370 ribu orang, sehingga penduduk setempat praktis tak mengenal kata macet, seperti yang dirasakan hampir semua kota di tanah air.

Hal ini pun membuat pengakuan mereka yang baru bermukim di Kota Palangka Raya dapat langsung mengatakan kota ini sangat nyaman, lancar, dan lengang, lantaran akses kemanamana menjadi mudah.

Pembangunan pun belum terlalu masif di kota ini. Hanya ada satu pusat perbelanjaan modern, dan satu bioskop yang berada persis di dekat bundaran besar. Namun kini pertokoan tampak mulai masif pada sepanjang jalanjalan protokol, termasuk jaringan retail modern seperti Alfamart dan Indomaret, serta penginapan dan hotel yang mulai menjamur.

Masyarakat awal kota Palangka Raya yang berada di Desa Pahandut di tepi sungai banyak memanfaatkan sungai sebagai sumber perekonomiannya. Meski zaman telah semakin berkembang, transportasi sungai seperti kapal kelotok pun masih belum ditinggalkan oleh penduduk sekitar.

Sedangkan di darat, transportasi yang bisa temui adalah angkot, walaupun masyarakat lokal pada umumnya menyebut taksi. Angkot ini biasa beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga sore hari.

Kota ini juga dikenal dengan keramahan penduduk lokal yang sangat menghargai yang namanya keberagaman. Tak salah bila Provinsi tempat kota ini bernaung disebut sebagai Bumi Pancasila, lantaran harmonisnya hubungan warga di tengah keberagaman agama, suku dan etnis yang ada.