Menebak Masa Depan Arsene Wenger Bersama Arsenal

Tampang yang tidak meyakinkan itu membuat sebagian besar orang bertanya ke mana dia akan membawa klub berjulukan The Gunners. Bahkan pemain pun khawatir timnya kehilangan daya ledak pada kasta tertinggi sepak bola Inggris.
“Pada awalnya, saya berpikir: ‘Apakah orang Perancis ini tahu tentang sepak bola? Dia mengenakan kaca mata dan tampangnya lebih cocok sebagai seraong guru sekolah. Dia tidak akan sebagus George Graham. Apakah dia juga bisa berbahasa Inggris dengan baik?,” demikian pernyataan keraguan kapten Arsenal saat itu, Tony Adams.
Wenger datang saat Arsenal sedang mencari manajer baru setelah George Graham, yang sudah menjadi bos di Highury selama hampir sembilan tahun, dipecat akibat skandal.
Kehadirannya sangat mengejutkan karena nama mendiang Johan Cruyff menjadi favorit untuk melanjutkan warisan kesuksesan Graham, yang membawa Arsenal meraih dua gelar First Division (yang mulai Februari 1992 berubah menjadi Premier League) pada 1988-89 dan 1990-91 serta dua Piala Liga (1986-87, 1992-93) dan Piala FA (1992-93).
Maka, tak heran bila saat perkenalan dirinya, para suporter, pemain dan media lokal sangat tidak antusias.
The Independent edisi 24 September 1996 bisa memberikan gambaran bagaimana reaksi suporter, yang justru bertanya-tanya “Arsene siapa?”, karena kala itu dia memang relatif tidak dikenal di panggung sepak bola Inggris.
Ya, ini untuk kali pertama Wenger menjejakkan kakinya di Inggris. Sebelumnya, dia menjadi pelatih Nancy (1984-87) kemudian AS Monaco (1987-94) dan terakhir menangani klub Jepang, Nagoya Grampus Eight (1995-96).
Ternyata Wenger menjawab keraguan itu dengan hasil menakjubkan. Dia merealisasikan pernyataannya saat perkenalan dengan mengubah gaya bermain Arsenal menjadi tim yang atraktif dan menghibur. Tentu saja dibarengi prestasi!
“Alasan utama kedatangan saya adalah bahwa saya mencintai sepak bola Inggris. Akar dari permainan ini ada di sini. Saya menyukai semangat selama permainan dan di Arsenal saya senang dengan semangat dan potensinya,” demikian ucapan Wenger kepada wartawan dalam jumpa pers pertamanya sebagai manajer Arsenal.
Ubah gaya bermain hingga rekor tak terkalahkan
Tidak seperti para penduhulunya, Wenger langsung mendapat kuasa penuh di tim. Dia mengontrol transfer, kontrak dan sesi latihan tanpa ada campur tangan dari jajaran manajemen. Langkah yang lebih keras lagi adalah mengubah budaya minum para pemain dan memaksa mereka hidup sehat.
Awalnya, Wenger hanya mengizinkan para pemain minum satu gelas dengan porsi sedikit. Kemudian, dia benar-benar melarang mereka mengonsumsinya saat kumpul bersama pada waktu santai.
ODD ANDERSEN/AFP Manajer Arsenal, Arsene Wenger, mempersiapkan salah satu pemainnya, Gabriel Paulista, untuk menggantikan Laurent Koscielny yang cedera saat menghadapi Bayern Muenchen dalam laga pertama babak 16 besar Liga Champions. Laga ini digelar di Allianz Arena pada Rabu (15/2/2017) waktu setempat.Makanan pun menjadi perhatian. Wenger mempromosikan pasta sebagai hidangan pra-pertandingan serta mendorong agar ayam rebus sebagai lauknya, bukan daging merah dan junk food.
Inilah awal dari metamorfosa era Wenger dalam mengubah tatanan klub. Perombabakan gaya hidup di luar lapangan ditambah praktek diet, peningkatan kebugaran serta menerapkan gaya sepak bola menyerang dan efisiensi keuangan, membuat Arsenal benar-benar berubah.
Alhasil, pada musim 1997-98 Wenger berhasil mempersembahkan dua gelar, yakni Premier League dan Piala FA. Gelar yang sama kembali mereka rengkuh pada 2001-02, sebelum Arsenal membuat sejarah dengan catatan rekor tidak terkalahkan dalam perjalanan menjadi juara musim 2003-04, setelah Preston North End melakukannya pada 115 tahun silam.
Bahkan, Arsenal juga mencatat rekor tak terkalahkan terlama di tanah Inggris karena mereka melalui 49 pertandingan liga sejak 7 Mei 2003 hingga 24 Oktober 2004 dengan selalu meraih poin. Sebelumnya, Nottingham Forest juga pernah mencatat jumlah kemenangan terbanyak tetapi terhenti pada angka 42.
Namun, itulah gelar terakhir Arsenal pada kasta tertinggi sepak bola Inggris karena hingga sekarang, penantiannya belum berujung. Pencapaian terbaik Tim Gudang Peluru selepas gelar Premier League 2003-04 adalah juara Piala FA 2004-05, 2013-14 dan 2014-15.
Arsenal untung besar tapi buntung prestasi
Arsenal pindah stadion pada 2006 dari Highbury ke Emirates Stadium. Markas baru ini menelan biaya yang sangat fantastis karena pembangunan stadion berkapasitas lebih dari 60.000 tempat duduk ini menghabiskan 390 juta poundsterling (sekitar Rp 6,513 triliun).
Sudah pasti, klub memiliki utang yang sangat besar. Tetapi Wenger bisa mengeluarkan Arsenal dari pusaran masalah finansial dengan kebijakan transfer menjual beberapa pemain berpengalaman dan mempromosikan sejumlah pemain muda seperti Theo Walcott dan Alex Song.
LINDSEY PARNABY/AFP Para pemain Arsenal merayakan gol Olivier Giroud ke gawang Preston pada partai babak ketiga Piala FA di Stadion Deepdale, Sabtu (7/1/2017).Alhasil, klub dengan cepat menutup semua utang, bahkan langsung meraih keuntungan. Tengok saja laporan tahunan yang dirilis raksasa konsultan keuangan, Deloitte, soal revenue klub pada tahun 2015-16. Mereka menempatkan Arsenal di urutan ketujuh dengan pendapatan 468,5 juta euro (sekitar Rp 6,655 triliun).
Padahal, ketika Wenger datang pada 1996, Arsenal berada di peringkat ke-20 daftar klub sepak bola kaya. Dengan penghasilan “hanya” 36 juta euro (sekitar Rp 511,449 miliar), mereka berada di bawah Parma, Ajax, AS Roma, Flamengo dan Newcastle United.
Namun 20 tahun setelah Wenger memegang kemudi, Arsenal menjelma jadi klub dengan kekuatan finansial yang hebat. Bagaimana tidak, penghasilan mereka meningkat lebih dari 10 kali, yang diperoleh dari pemasukan tiket pertandingan, hak siar televisi dan penjualan komersial.
Kini, Arsenal berada di atas klub elite Eropa seperti AC Milan dan Juventus serta dua rivalnya dari London, Chelsea dan Tottenham Hotspur.
Sayang, kekuatan finansial yang meningkat pesat itu tak diiringi prestasi di atas lapangan. Hanya tiga gelar Piala FA yang menjadi penghibur setelah mereka merengkuh trofi Premier League 2003-04, sehingga fans mulai gerah. Penantian panjang untuk kembali menjadi yang terbaik di Inggris tak kunjung tiba.
Setiap musim Arsenal hanya menjadi penantang serius juara. Ibarat kendaraan, The Gunners cepat panas dan kencang pada awal musim sehingga berada di barisan terdepan, tetapi kehabisan bensin menjelang finis.
Ini membuat mereka hanya konsisten dalam jajaran empat besar, termasuk pada musim lalu, ketika berada di belakang Leicester City sebagai juara baru.
Di ambang pemecatan
Pada musim ini, Wenger gagal mengangkat performa tim. Alih-alih menjadi juara, The Gunners bahkan belum pernah meraih posisi teratas yang kini ditempati Chelsea.
Bahkan, Arsenal terancam gagal tampil pada Liga Champions musim depan karena hingga pekan ke-29, Si Gudang Peluru masih berada di urutan keenam (meskipun Arsenal baru bermain 27 kali).
Padahal, mereka sudah tersingkir secara tragis dari Liga Champions musim ini. Bagaimana tidak, gawang The Gunners digelontor 10 gol oleh wakil Jerman, Bayern Muenchen, dalam dua leg babak 16 besar pada 15 Februari dan 7 Maret.
BEN STANSALL / AFP Ekspresi manajer Arsenal, Arsene Wenger, saat memimpin latihan jelang pertandingan pertama babak 16 besar Liga Championss melawan Bayern Muenchen di Allianz Arena pada 15 Februari 2017.
Ini yang memicu munculnya tuntutan agar Wenger dipecat. Bahkan ketidakpuasan fans itu kian memuncak ketika Arsenal kalah 1-3 dari West Bromwich Albion pada 18 Maret dalam lanjutan Premier League.
Spanduk-spanduk bernada negatif seperti “Wenger out”, “Tak ada kontrak baru”, muncul hampir di setiap sudut yang ditempati suporter Arsenal.
Situasi ini diperburuk oleh komentar sejumlah pengamat, termasuk mantan pemain. Ambil contoh Chris Sutton, yang menyebut Wenger telah membuat Arsenal melangkah mundur.
“Pekerjaannya dalam bursa transfer akhir-akhir ini sudah gagal,” demikian ujar mantan pemain Chelsea yang meraih gelar Premier League bersama Blackburn Rovers pada 1995 ini kepada BBC Radio.
Sejatinya, kontrak Wenger di Arsenal berakhir pada 30 Juni 2017 nanti. Meskipun demikian, manajemen masih memberi sinyal akan menyodorkan kontrak baru berdurasi dua tahun. Apakah ini akan teralisasi?
Jika melihat hasil sepanjang bulan Maret, rasanya manajemen akan mempertimbangkan kembali rencana tersebut. Masa depan Wenger di Emirates Stadium pun menjadi tidak pasti. Laksana bom waktu yang kapan pun bisa meledak, bukan mustahil sejam ke depan Sang Profesor sudah “dilenyapkan” alias dipecat.
Nah, bulan April ini mungkin menjadi deadline bagi Wenger. Ada rangkaian pertandingan krusial untuk mengangkat kembali posisi Arsenal, minimal menembus zona Liga Champions.
Setelah liga istirahat selama dua pekan karena ada pertandingan internasional, kini kompetisi domestik mulai bergulir lagi. Arsenal mengawali bulan krusial ini dengan bigmatch di Emirates Stadium ketika menjamu Manchester City pada 2 April.
Empat hari berselang mereka menjamu West Ham United, sebelum menyambangi markas Crystal Palace pada 10 April, dilanjutkan tandang ke Middlesbrough (18 April), menjamu Leicester City (27 April) dan ditutup derbi London di White Hart Lane, kandang Tottenham Hotspur, pada 30 April.

newenglandsportscountry.com pengeluaran sgp Sumber: Kompas.com